RMco.id  Rakyat Merdeka - Mantan pebulutangkis nasional Joko Suprianto meyakini, dengan kapasitas yang dimiliki Ketua BPK Agung Firman Sampurna akan mampu memperbaiki organisasi PBSI.

PBSI dan pelatnas Cipayung harus menjadi refleksi kekuatan bulutangkis nasional bukan sebuah klub. Joko Suprianto yang pernah meraih juara World Championships, dua kali juara World Cup, empat kali Thomas Cup, satu kali Asian Games, serta lima medali emas SEA Games mengungkapkan, siapa saja boleh menjadi Ketua Umum PBSI asal bisa memperbaiki organisasi dan meningkatkan prestasi atlet.

"Bagi saya, siapapun boleh menjadi Ketua Umum PBSI yang baru asal punya kapasitas, komitmen membangun dan memperbaiki organisasi serta meningkatkan prestasi atlet," tutur Joko yang kini menjadi pelatih di klub Victory Bogor, Jumat (23/10).

Baca Juga : Kemensos Siapkan Tenda Khusus Untuk Pengungsi Kelompok Rentan Di Sulbar

Saat ditanya sosok Agung Firman yang mendapatkan dukungan begitu banyak dari Pengprov PBSI, Joko menilai sebagai Ketua BPK Agung tentu memiliki kapasitas. "Sekarang maukah beliau menyelesaikan setumpuk masalah di PBSI dan pelatnas," ujar Joko.

Joko menyebutkan beberapa masalah yang menyelimuti tubuh organisasi bulutangkis nasional itu. Pertama, pembinaan daerah yang terabaikan selama ini. Kedua, mekanisme pemilihan pelatih dan pemain pelatnas yang harus fair. "Sekarang ini muncul anggapan ada klub sentris," tambah Joko.

"Sangat berbahaya pemilihan pemain dan pelatnas yang tidak fair karena ini akan berakibat kualitas atlet nasional menurun dan berimbas kepada prestasi bulutangkis Indonesia di kancah internasional," jelas Joko.

Baca Juga : MPR Terima Bantuan 40 Ribu Masker Dari Parlemen Vietnam

Ketiga, soal sponsorship yang tampak hanya bertumpu kepada Grup Jarum. "Ketum yang baru harus mempu merangkul sponsor lain, terutama untuk menghidupkan pembinaan di daerah," kata Joko yang pernah ikut meraih empat gelar Thomas Cup secara berurutan, mulai dari tahun 1994 hingga 2000.

Keempat, tentang hak suara dalam Munas PBSI yang hanya dimiliki oleh 34 Pengprov. Selama ini klub besar dan kumpulan mantan pemain nasional tidak terwakili suaranya. "Perlu ada perbaikan AD/ART tentang hak suara dalam kongres PBSI. Harusnya ada untuk klub yang berkontrubusi besar mengirim atletnya ke pelatnas, dan suara dari mantan pemain nasional," ungkap Joko.

Joko juga berpesan, jika Agung Firman terpilih nanti harus memilih orang yang tepat untuk menjalani organisasi. Tertutama untuk pembinaan prestasi dan kesekretariatan. [WUR]