Ketua KPSN Ungkap Konsekuensi Perjuangan Perbaiki PSSI

Mantan Ketum PSSI Edy Rahmayadi. (Foto : istimewa)
Klik untuk perbesar
Mantan Ketum PSSI Edy Rahmayadi. (Foto : istimewa)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Mudurnya Edy Rahmayadi sebagai ketua PSSI masih menjadi misteri yang belum terpecahkan. Sempat disebut-sebut Edy mundur akibat tekanan dari Komite Perubahan Sepak Bola Nasional (KPSN).

Wartawan senior terkemuka, Yesayas Oktovianus, dalam program acara Mata Najwa yang mengusung tema, "PSSI Bisa Apa III: Saatnya Revolusi!", Rabu (23/1/2019), sempat menyinggung nama komite Perubahan Sepak Bola Nasional (KPSN).

Berita Terkait : Bank DKI Dukung Transparansi Penerimaan Pajak

KPSN tersebut disebut oleh Yesayas sengaja dibentuk untuk melengserkan Edy Rahmayadi yang waktu itu menjabat sebagai Ketua PSSI. Yesayas juga sempat menyinggung nama ketua dari KPSN yaitu Suhendra Hadikuntono. Yesayas yang mengklaim sebagai pendiri dan sekaligus Ketua KPSN pertama selama satu hari, memilih untuk mundur karena merasa tak sanggup memenuhi target yang ada.

Suhendra menjelaskan kalau KPSN didirikan atas dasar rasa keprihatinan yang mendalam atas prestasi sepak bola nasional yang tidak mampu bersaing baik di tingkat regional maupun dunia, dan salah satu penyebabnya adalah maraknya match-fixing.

Baca Juga : Airlangga Beri Kuliah Umum di Seskoal

Suhendra berkata bahwa tujuan KPSN bukan membuat Edy Rahmayadi mundur tetapi memberantas match-fixing dan melakukan perubahan terhadap PSSI ke arah yang lebih baik. Bahwa kemudian ada yang mundur, kata Suhendra, itu adalah sebuah konsekuensi dari perjuangan.

Selain itu, KPSN dibentuk demi mengembalikan PSSI ke khittah-nya pada 19 April 1930 di Yogyakarta, yakni sebagai alat perjuangan dan pemersatu bangsa serta sarana menyejajarkan diri dengan bangsa-bangsa lain yang lebih maju melalui prestasi sepak bola nasional.

Baca Juga : Sejumlah Wilayah Di Indonesia Rentan Rawan Pangan

“Bahwa dalam perjuangan ke arah PSSI yang lebih baik itu ada pihak-pihak yang menjadi korban, misalnya Ketua Umum mundur atau Plt Ketua Umum menjadi tersangka, itu konsekuensi perjuangan," tutur Suhendra. "Revolusi kadang-kadang memang menelan anak kandungnya sendiri,” ujar Suhendra lagi.

Pernyataan itu sekaligus menampik isu balas dendam politik, karena partai yang didukung Suhendra kalah dalam Pilkada Sumut 2018. "Tapi kalau mau dianggap saya kalah di Sumut, kemudian menang di PSSI, berarti skornya jadi 1-1," kata Suhendra. [WUR]