PLN Bikin Terowongan di Bawah Bukit Barisan

Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Asahan 3 terus digenjot. PLTA yang dibangun di Kabupaten Asahan Dan Toba Samosir itu ditarget beroperasi pada 2023.

Dalam masa pembangunan pembangkit, PLN bekerjasama dengan Shimizu Corp– PT Adhi Karya (Persero) Tbk Joint Operation (SAJO).

"Pembangunannya dimulai pada tanggal 28 Maret 2019. Hingga Februari 2020, progres pembangunan PLTA Asahan 3 sebesar 5,11 persen. Direncanakan beroperasi pada Tahun 2023," tutur Vice President Public Relation PLN, Dwi Suryo Abdullah.

PLTA Asahan 3 yang dibangun direncanakan berkapasitas 2x87MW (174 MW), merupakan salah satu proyek strategis nasional. Pembangkit baru ini nantinya akan menambah pasokan listrik di Sumatera Bagian Utara melalui Gardu Induk 275 kV Simangkuk.

Disisi lain, PLTA Asahan 3 juga diproyeksikan bisa meningkatkan bauran energi baru terbarukan sebesar 3,3 persen sehingga dapat meminimalisir penggunaan pembangkit berbahan bakar fosil.

"Dengan demikian peningkatan kebutuhan listrik yang terus meningkat dari tahun ke tahun bisa ditopang dengan pasokan yang andal," kata Dwi Suryo.

Kapasitas bauran energi Sumatera bagian utara untuk Pembangkit EBT sampai dengan 2023 adalah sebesar 33,7 persen, dengan beroperasinya PLTA Asahan 3, maka kapasitas bauran energi untuk pembangkit EBT akan meningkat menjadi 35,6 persen.

Manager Unit Pelaksana Proyek Pembangkit Sumatera 6 Agil Darmawan menerangkan, PLTA Asahan 3 dibangun di dua kabupaten yaitu Kabupaten Asahan dan Kabupaten Toba Samosir.

 "Sistem pengoperasiannya yakni dengan mengalihkan aliran air Sungai dan akan melewati terowongan (Headrace Tunnel) sepanjang 8 km hingga ke Powerhouse, serta memutar 2 (dua) unit turbine dengan tipe Vertical-shaft Francis," katanya.

Dengan beroperasi pembangkit ini diharapkan dapat menurunkan Biaya Pokok Produksi (BPP) untuk wilayah Sumatera Bagian Utara sekitar Rp. 72/kWh, serta berpotensi dalam peningkatan jumlah pelanggan rumah tangga sebanyak 241.000 rumah (dengan perhitungan pelanggan 900 VA).

Hingga akhir februari 2020, pembangunan pembangkit telah menyerap tenaga kerja hingga lebih dari 800 orang.

"Sistem kerjanya 24 jam. Khusus untuk pelaksana pekerja utamanya, yang bertugas didalam terowongan, ada 50 orang dibagi dalam dua shift. Satu shiftnya 25 orang terdiri dari operator alat berat beserta helper-helper untuk pekerjaan tersebut," tutur Agil. [FAZ/FIT]